Membaca kembali, sebuah lembaran yang lama lalu ku tulis
Ku tersenyum waktu itu, tanpa ada beban mencintai seseorang
Rasanya seperti ku berada di tengah padang rumput dengannya,
Selalu mengajakku bermain diantara ilalangnya,
Lalu, setelah lelah kami sejenak duduk di bawah pohon...di bukit kecil kami yang kita namakan bukit nyanyian.
Kami membuka bekal kami dalam bungkusan kecil yang ia siapkan dirumahnya
Dengan kehatiannya dia membuka dan menyajikannya..
Sungguh merdu saat kita nikmati berdua diantara kabut pagi yang mulai sirna. Digantikan cahaya mentari dan menyembuhkan kembali lelah kita
"Hmm...nikmat sekali teh yang kamu siapkan cinta..kue apa ini ? apa kamu yang telah membuatkan ?"
Dalam kesejukan, suara2 alam yang cantik kita menikmati istirahat ini. matanya yang teduh menghangatkan ragaku, senyumnya yang berseri melegakan hatiku..betapa berutungnya ada bidadari yang hinggap di sisiku mempercayakan jantungnya kepadaku. "Hadirmu benar-benar menghidupi aku wahai cinta"
"Segera kita beranjak cintaku, ayo kita bereskan bekal kita sebelum matahari mulai menyilaukan...lihat rintik sudah pergi jauh meninggalkan kita"
Segera kita menuju sepeda tua yang tadi ditinggalkan di bawah bukit nyanyian.
Berpegang erat pada duduknya, dalam boncenganku... seakan ia merasakan nyamannya berada dalam kemesraan ini
Nyanyian merdunya selalu mengiringi arah pulang kami,
diantara pematang sawah, kebun-kebun kecil sayuran yang kami lewati
Tak henti ia bernyanyi senang dan sesekali menggodaku hingga tiba di halaman teras rumahnya
"Sampai ketemu menjelang petang wahai cintaku...doakan aku lancar di waktu kerjaku, semoga harimu indah juga sampai ku jemput kembali sore nanti..sampaikan salam terhangatku untuk ayahbundamu"
Itulah setitik tinta dalam lembaranku dengannya
Sayang, lembaran itu ternyata belum ku ukir...
Karena ku masih menanti cintaku
Ku tersenyum waktu itu, tanpa ada beban mencintai seseorang
Rasanya seperti ku berada di tengah padang rumput dengannya,
Selalu mengajakku bermain diantara ilalangnya,
Lalu, setelah lelah kami sejenak duduk di bawah pohon...di bukit kecil kami yang kita namakan bukit nyanyian.
Kami membuka bekal kami dalam bungkusan kecil yang ia siapkan dirumahnya
Dengan kehatiannya dia membuka dan menyajikannya..
Sungguh merdu saat kita nikmati berdua diantara kabut pagi yang mulai sirna. Digantikan cahaya mentari dan menyembuhkan kembali lelah kita
"Hmm...nikmat sekali teh yang kamu siapkan cinta..kue apa ini ? apa kamu yang telah membuatkan ?"
Dalam kesejukan, suara2 alam yang cantik kita menikmati istirahat ini. matanya yang teduh menghangatkan ragaku, senyumnya yang berseri melegakan hatiku..betapa berutungnya ada bidadari yang hinggap di sisiku mempercayakan jantungnya kepadaku. "Hadirmu benar-benar menghidupi aku wahai cinta"
"Segera kita beranjak cintaku, ayo kita bereskan bekal kita sebelum matahari mulai menyilaukan...lihat rintik sudah pergi jauh meninggalkan kita"
Segera kita menuju sepeda tua yang tadi ditinggalkan di bawah bukit nyanyian.
Berpegang erat pada duduknya, dalam boncenganku... seakan ia merasakan nyamannya berada dalam kemesraan ini
Nyanyian merdunya selalu mengiringi arah pulang kami,
diantara pematang sawah, kebun-kebun kecil sayuran yang kami lewati
Tak henti ia bernyanyi senang dan sesekali menggodaku hingga tiba di halaman teras rumahnya
"Sampai ketemu menjelang petang wahai cintaku...doakan aku lancar di waktu kerjaku, semoga harimu indah juga sampai ku jemput kembali sore nanti..sampaikan salam terhangatku untuk ayahbundamu"
Itulah setitik tinta dalam lembaranku dengannya
Sayang, lembaran itu ternyata belum ku ukir...
Karena ku masih menanti cintaku
So romantic, membawa pembaca ke alam pikiran penulis :)
BalasHapusthank u..
BalasHapusawawawaw, masih menunggu ya
BalasHapusyes mam, i'd do anything for my true love..
BalasHapus